banyak orang menyebut yayasan riyadus solihin, atau tertulis riyadlus sholihin, atau riyadhus shalihin atau riyadus solihin dsb, yayasan ini didirikanoleh 4 orang salah satunya KH. Ruslan Effendi atau yang biasa disapa ustad Lani, beralamat Jl.Bukit Duri Tanjakan IV, Tebet Jakarta Selatan. Rekening Bank Syariah Mandiri cab. Jatinegara AC. 0660022009 atas nama Riyadlus Shalihin
Untaian Keindahan Makna antara Harapan & Realita
""Kebaikan-kebaikan besar berasal dari kebaikan-kebaikan kecil. Jangan pernah menganggap remeh kebaikan-kebaikan kecil yang biasa kita lakukan, Bisa jadi itu mengundang kebaikan besar menghampiri diri kita... Terus ber'amal dan Istiqomahlah,sekecil apapun 'amal itu". (salman al muhandis) "
"blog ini paling mudah dan memberikan tampilan yang sempurna, apabila diakses menggunakan opera "
Minggu, 07 September 2008
JANDA JELATA
Sudah setengah jam saya tunggu yang lainnya tidak ada yang datang lagi. Jadi saya tanya, "Masih ada yang ditunggu Nek?"Nenek itu menggeleng, "Tidak ada, Ustaz. Yang saya undang hanya lima orang, termasuk Ustaz. Maklum, tempatnya sempit.
Saya tersentuh. Orang kecil ini masih juga ingin mengadakan syukuran kepada Allah dalam ketidakberdayaannya, sementara banyak orang lain yang rumahnya besar-besar tidak pernah diinjak tetangganya untuk selamatan."Apa tujuan syukuran ini, Nek?" saya bertanya pula." Begini, Ustaz," jawab si nenek. "Saya bersyukur kepada Allah karena sejak bulan depan saya bisa mengontrak kamar ini, sebulan tiga ribu rupiah. Tadinya tuan rumah menolak, tidak mau menerima uang saya. Tapi akhirnya ia tidak keberatan, sehingga utang budi saya tidak terlalu berat."
Masya Allah. Alangkah mulianya hati nenek itu. Ia yang sebetulnya masih perlu disedekahi, tidak mau membebani orang lain tanpa imbalan. Dan alangkah mulianya pula si tuan rumah yang tidak mau mengecewakan hati seoang nenek yang ingin terbebas dari perasaan bergantung pada orang lain.
Oleh KH. A Arroisi
Kamis, 21 Agustus 2008
Fenomena kemedekaan agust'08

Garap taman pakai pacul
Ma-ap kelamaan gak muncul
maksain benget ya...
seneng banget..setidaknya ungkapan itu muncul dari ibu-ibu yang ikut lomba 17-an di wilayah Klp.Gading, perayaan kemerdekaan tahun ini terbilang lebih marak dari tahun kemarin. Tak pelak tokoh politik-pun ikut ambil momentum 17-an dengan iklan di TV, seperti kata pantun :
pelan–pelan memetik buah kecapi
buah hampir punah bentuknya seperti bulan
iklan politik makin sering di TV
buat apalagi kalo bukan kejar 2009
rasa nasionalis serasa tumbuh manakala melihat bendera merah putih berkibar sepanjang perumahan, namun jika menengok berita yang marak saat ini dimana ada indikasi keterlibatan para pejabat dan anggota dewan yang, seakan-akan rasa nasionalime itu tercabut dalam sanubari mereka curang,culas, manipulasi , memotong yang bukan haknya, keadaanpun sulit berubah.
Rakyat Indonesia butuh Pemimpin yang memliki shock terapi bagi jajaran staf dan bawahannya, keputusan benar-benar menghujam karena ia berani mengawali dengan dirinya terlebih dahulu.
Kepemimpinan pada level regional maupun nasional tidak cukup dibentuk melalui iklan. Pemimpin harus lahir dengan membawa narasi besar, yang fasih menjelaskannya dan teruji kemampuan eksekusinya sehari-hari.
Sejenak kita lupakan ngompol (ngomong politik) karena sebentar lagi kita kan kedatangan tamu besar sepanjan tahun, apalagi kalo bukan Bulan Romadhon, tapi Jakarta terasa panas karena hujan jarang turun, puasa bakal dapat ujian lebh berat nih, tapi jangan khwatir tentu ada tipsnya loh, yang jelas bukan mendatangkan hujan, tapi menyangkut kejiwaan kita, karena apapun pekerjaan akan terasa lebih ringan jika diawali dengan ikhlas dari pada diawali dengan berat hati.
Jumat, 11 Juli 2008
Agamanya Gak Jelas…
Ketika sebuah kalimat negative itu keluar dari kelompok orang sesungguhnya ia adalah sebuah hukuman social, disadari atau tidak. Saya termasuk orang yang responsible atas isu yang saya anggap tidak relevan, namun untuk mengahadapi hal itu saya seringkali menggunakan metode yaitu : mengedepankan latar belakang dan maksud, contoh : kawan saya yang sama diatas melontarkan ungkapan kalo mati dikubur saja kaya binatang tanpa tahlilan, jujur saya juga pernah mengikuti ritual tradisionil semacam itu walau tidak serajin kawan saya sekantor, tapi kalimat itu sering saya terima, terlintas dalam benak untuk menjawab, jika orang islam mengharamkan tahlil sesunggunya islam nya dipertanyakan karena artinya kalimat LAILAHAILLAH, dan kita hanya bisa mengharamkan ucapan itu disaat buang hajat atau kamar mandi dan lain sebagainya, tapi urung niat itu direalisasikan, karena saya berfikr kembali bahwa ada semacam sekat yang itu hanya subur disaat seseorang lalai berfikir luas arti sebuah perbedaan plus dalil-dalil lain, apalagi soal perbedaan ini sering diperbesar-besarkan dalam kantor saya, yang sesungguhnya dikalangan kami hal itu sudah ketinggalan zaman karena kelompok kami sibuk dan menggapai sebuah cita-cita besar yaitu : islam harus menjadi solusi atau rahmatan lil alamin, kami pikir itu lebih mendesak dan dibutuhkan saat ini tanpa meninggalkan variable sunnah nabi , beda itu biasa asal tidak membeda-bedakan, tapi saya bersyukur al-hamduulillah dengan kalimat yang terlontar barusan tadi adalah jawaban atas kapasitas keilmuanya, dan karakter dalam menghadapi sebuah perbedaan, dan itu berlaku setiap menghadapi perbedaan.
Sekali lagi ternyata kita hanya berkutat pada sisi yang sebetulnya itu hanyalah sebuah furu’ dan tidak ada kaitannya dengan aqidah, tapi kalo kita mau berdialog dengan kelompok yang mengaku salaf dimana corak mereka adalah berjenggot panjang dan celana isbal (diatas mata kaki) mereka pernah berujar aqidah harus dituntun dan disertai dengan sunnah yang benar, kalo buat sendiri sesudah sempurna agama ini maka amalnya akan ditolak, sepintas kalimat itu membuat dada saya membuncah, saya seperti posisi ditengah memang terkesan ambigu, tapi justru ditengahlah adalah sebuah keniscayaan yang harus saya jalani dan usahakan di dunia sepeninggal Rasulullah SAW, antara tuntunan dan tuntutan.
namun kita seringkali melupakan akhlaq yang sebenarnya ceriminan agama seseorang aw kama qola rosulullah SAW……..ah ironi …… (ifan)
Kamis, 10 Juli 2008
Mamad si Pengamen
Setiap siang adalah hari dimana Mamad bocah kelas 3 SD bergelut dengan jadwal ngamen , pindah dari satu kebis yang laen, setiap hari dilaluinya, entah apa yang membuat mamad tertarik jika masuk magrib dia sering nongkrong disebuah masjid dimana tiap hari dilalui dari terminal ke rumahnya, banyak usia sebayanya mengaji dan bersenda gurau di masjid itu entah apa yang dipikirkan. Dibalik kaca jendela masjid, beruntung seorang laki-laki berumur 23 tahun bernama ifan menyapanya
Sesuai kesepakatan mereka berdua keesokan harinya mamad-pun sepulang ngamen sudah siap dengan sarung yang dipakai walaupun tidak rapi, tapi lengkap dengan tas ransel kumalnya, dan bergabung dengan kawan-kawannya, cara berwudhu sholat, baca iqro dilalui dengan teman-temannya, alangkah senang bisa berteman dan bercanda dengan kawan-kawannya, itulah sesungguhnya tabiat anak-anak.
Pada suatu ketika seorang temannya menemukan sebuah kencrengan ya ….ya kencrengan terbuat dari kayu dan dipadukan dengan beberapa tutup botol yang sudah dilempengkan, jika di pukulkan ketelapak tangan akan ada gemerincing suara, yah itulah alat musik sangat sederhana yang menemani Mamad jika mengamen, hal itu membuat beberapa teman penasaran dan memainkan, dan menjadi bahan olok-olakan, suasanapun berubah menjadi gaduh, segera saja bang ifan melerai dan beberapa kawannyapun disetrap.
Pada pertemuan tidak biasanya , dikumpulkan anak –anak TPA terkait akan ada karnaval menyambut 1 Muharram, dan dilombakan bernyanyi relegius, dan itu melibatkan beberapa TPA sekelurahan Bukit Duri. beberapa kawanpun saling melirik siapa gerangan yang akan mewakilan TPAnya sebagai Vokalis….aha para kakak pembinapun sepakat menunjuk Mamad, karena ia tidak hanya terkenal dengan suaranya jernih tapi juga merdu kalau ukuran seusianya..
Hari Sabtu tanggal merah bertand 1 Muharram dan acara yang dijanjikanpun telah dimulai dari iringan karnaval hingga perlombaan, tapi anakkecil itu tanpa ada alasan tidak kunjung hadir, hal ini membuat geram beberapa kawan dan tentu kekecewaan dari kakak Pembina terus mengalir,
Hari minggu kemudian pagi-pagi bang ifan jalan menuju tempat tinggal Mamad yang mana dulu pernah diceritakan, sesampai di daerah Mangarai pinggir rel kareta, …….Kaget terpana tak terkira dulu disini banyak bangunan Gubuk, kini rata dengan tanah, kata masyarakat sekitar baru kemarin ada penggusuran karena mengambil areal PJKA., bang ifanpun menelusuri puing-puing sambil ingin meredakan kagetnya….., tepat dimatanya seorang pemulung mengorek-ngorek puing dan didapati sebuah buku tulis serta buku baca iqro’ terbelalak bang ifan memandang dan sangat kenal siapa pemiliknya, segera saja bang ifan meminta dengan dalih akan mengembalikan pada punya.
Dicobanya duduk santai pada bongkahan kayu sambil membuka buku tulis ahmad, sambil mengenang saat-saat dengan ahmad bocah lucu, lugu sesungguhnya adalah anak cerdas, terbukti hanya beberapa bulan saja sudah Iqro 6 melebihi teman sejawatnya yang lebih dulu gabung di TPA, rasa haru belum juga pupus saat membuka pada lembar terakhir ada catatan kecil tertulis : “ besok 1 Muharram aku ikut karnaval dan lomba bernyayi relegius sekelurahan Bukit Duri …… (ifan)