Riyadlus Shalihin adalah Yayasan sebagai
wadah berhimpunnya kebaikan hati manusia yang berfungsi untuk menumbuh kembangkan rahmat islam bagi seluruh manusia. berdiri pada hari tahun 1995

Untaian Keindahan Makna antara Harapan & Realita

Selamat datang, Jika semua harta adalah racun maka zakatlah penawarnya, jika seluruh umur adalah dosa maka taqwa & tobatlah obatnya, jika seluruh bulan ternoda maka ramadhanlah pemutihnya, MARHABAN YA RAMADHAN
HIKMAH OF THE DAY

""Kebaikan-kebaikan besar berasal dari kebaikan-kebaikan kecil. Jangan pernah menganggap remeh kebaikan-kebaikan kecil yang biasa kita lakukan, Bisa jadi itu mengundang kebaikan besar menghampiri diri kita... Terus ber'amal dan Istiqomahlah,sekecil apapun 'amal itu". (salman al muhandis) "

TIP MENGAKSES BLOG INI

"blog ini paling mudah dan memberikan tampilan yang sempurna, apabila diakses menggunakan opera "

Selasa, 23 September 2008

Terimaksih sobatku

Perhatian-perhatian, diberitahukan kepada para penumpang "RAMADHAN AIR" dengan Nomor penerbangan 1429H, bahwa perjalanan akan ditempuh dalam waktu 7 hari lagi. Ketinggian jelajah amal DILIPAT GANDAkan, dengan TUJUAN TAQWA. Para penumpang diharap tetap mengenakan sabuk AMANAH & menegakkan kursi IMAN & IKHLAS. Penerbangan ini bebas asap DENGKI & PERSELISIHAN. Atas nama awak kabin yang bertugas, kami ucapkan "SELAMAT MENIKMATI BONUS-BONUS PAHALA. SEMOGA SELAMAT SAMPAI TUJUAN".

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.~ Hamka


sahabat tau gak sey....., gak ada seorang pun sempurna. Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak. Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah Bila kita mengisi hati kita dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan,kita tak memiliki hari ini untuk kita syukuri. berusaha yuk untuk bersyukur..


Minggu, 07 September 2008

JANDA JELATA

Seorang janda tua pernah mengundang saya untuk selamatan di rumahnya. Perempuan yang sudah nenek-nenek itu saya tahu mata pencahariannya hanya berdagang kue keliling kampung yang hasilnya tidak seberapa. Ia hidup sendirian di Jakarta, tanpa sanak keluarga. Dan ia tinggal di emperan rumah oang lain atas kebaikan hati si tuan rumah. Hari itu, selepas salat Jum'at ia ingin mengadakan syukuran.Saya pun segera datang tepat pada waktunya. Tidak berapa lama kemudian datang pula ketua RT, imam masjid, dan seorang marbotnya. Disusul dengan kehadiran si tuan rumah yang selama bertahun-tahun memberikan emperan rumahnya untuk ditempati.
Sudah setengah jam saya tunggu yang lainnya tidak ada yang datang lagi. Jadi saya tanya, "Masih ada yang ditunggu Nek?"Nenek itu menggeleng, "Tidak ada, Ustaz. Yang saya undang hanya lima orang, termasuk Ustaz. Maklum, tempatnya sempit.
Saya tersentuh. Orang kecil ini masih juga ingin mengadakan syukuran kepada Allah dalam ketidakberdayaannya, sementara banyak orang lain yang rumahnya besar-besar tidak pernah diinjak tetangganya untuk selamatan."Apa tujuan syukuran ini, Nek?" saya bertanya pula." Begini, Ustaz," jawab si nenek. "Saya bersyukur kepada Allah karena sejak bulan depan saya bisa mengontrak kamar ini, sebulan tiga ribu rupiah. Tadinya tuan rumah menolak, tidak mau menerima uang saya. Tapi akhirnya ia tidak keberatan, sehingga utang budi saya tidak terlalu berat."
Masya Allah. Alangkah mulianya hati nenek itu. Ia yang sebetulnya masih perlu disedekahi, tidak mau membebani orang lain tanpa imbalan. Dan alangkah mulianya pula si tuan rumah yang tidak mau mengecewakan hati seoang nenek yang ingin terbebas dari perasaan bergantung pada orang lain.
Oleh KH. A Arroisi

Kamis, 21 Agustus 2008

Fenomena kemedekaan agust'08


Garap taman pakai pacul
Ma-ap kelamaan gak muncul

maksain benget ya...

seneng banget..setidaknya ungkapan itu muncul dari ibu-ibu yang ikut lomba 17-an di wilayah Klp.Gading, perayaan kemerdekaan tahun ini terbilang lebih marak dari tahun kemarin. Tak pelak tokoh politik-pun ikut ambil momentum 17-an dengan iklan di TV, seperti kata pantun :
pelan–pelan memetik buah kecapi
buah hampir punah bentuknya seperti bulan
iklan politik makin sering di TV
buat apalagi kalo bukan kejar 2009


rasa nasionalis serasa tumbuh manakala melihat bendera merah putih berkibar sepanjang perumahan, namun jika menengok berita yang marak saat ini dimana ada indikasi keterlibatan para pejabat dan anggota dewan yang, seakan-akan rasa nasionalime itu tercabut dalam sanubari mereka curang,culas, manipulasi , memotong yang bukan haknya, keadaanpun sulit berubah.
Rakyat Indonesia butuh Pemimpin yang memliki shock terapi bagi jajaran staf dan bawahannya, keputusan benar-benar menghujam karena ia berani mengawali dengan dirinya terlebih dahulu.
Kepemimpinan pada level regional maupun nasional tidak cukup dibentuk melalui iklan. Pemimpin harus lahir dengan membawa narasi besar, yang fasih menjelaskannya dan teruji kemampuan eksekusinya sehari-hari.
Sejenak kita lupakan ngompol (ngomong politik) karena sebentar lagi kita kan kedatangan tamu besar sepanjan tahun, apalagi kalo bukan Bulan Romadhon, tapi Jakarta terasa panas karena hujan jarang turun, puasa bakal dapat ujian lebh berat nih, tapi jangan khwatir tentu ada tipsnya loh, yang jelas bukan mendatangkan hujan, tapi menyangkut kejiwaan kita, karena apapun pekerjaan akan terasa lebih ringan jika diawali dengan ikhlas dari pada diawali dengan berat hati.

Jumat, 11 Juli 2008

Agamanya Gak Jelas…

Agamanya gak jelas sebuah ungkapan yang mungkin orang yang dituju sakit hati, dan itu keluar dari mulut seorang wanita R inisialnya dari LSM syariah yang bergerak dibidang pemberdayaan, kalimat itu benar-benar terlontar manakala disodorkan teman satu kantor dengan saya sebut saja M yang juga muslim, untuk dijodohkan dengannya, saya sebenarnya tidak terkejut sebuah ungkapan Agamanya gak jelas , ingin rasanya membela teman kantorku tapi karena memang prilaku M ini sering sulit dikendalikan, karena apa yang dia pikirkan itulah menjadi idealisme untuk dilakoni walaupun menggeser ‘norma norma’ kepatutan sebagaimana yang lain, namun jangan salahloh walau demikian ia juga masih sholat 5 waktu sehari insyallah. Terlepas kemunafikan dari masing-masing kita, setelah mendengar ucapan itu, saya coba memperluas pemahaman kalimat tadi, apakah benar itu menjadi opini rekan-rekan LSM tersebut secara keseluruhan, tapi paling tidak jika yang mengamati itu banyak orang mungkin menjadi opni seragam tapi yang membedakan mereka adalah memaklumi atau tidak.

Ketika sebuah kalimat negative itu keluar dari kelompok orang sesungguhnya ia adalah sebuah hukuman social, disadari atau tidak. Saya termasuk orang yang responsible atas isu yang saya anggap tidak relevan, namun untuk mengahadapi hal itu saya seringkali menggunakan metode yaitu : mengedepankan latar belakang dan maksud, contoh : kawan saya yang sama diatas melontarkan ungkapan kalo mati dikubur saja kaya binatang tanpa tahlilan, jujur saya juga pernah mengikuti ritual tradisionil semacam itu walau tidak serajin kawan saya sekantor, tapi kalimat itu sering saya terima, terlintas dalam benak untuk menjawab, jika orang islam mengharamkan tahlil sesunggunya islam nya dipertanyakan karena artinya kalimat LAILAHAILLAH, dan kita hanya bisa mengharamkan ucapan itu disaat buang hajat atau kamar mandi dan lain sebagainya, tapi urung niat itu direalisasikan, karena saya berfikr kembali bahwa ada semacam sekat yang itu hanya subur disaat seseorang lalai berfikir luas arti sebuah perbedaan plus dalil-dalil lain, apalagi soal perbedaan ini sering diperbesar-besarkan dalam kantor saya, yang sesungguhnya dikalangan kami hal itu sudah ketinggalan zaman karena kelompok kami sibuk dan menggapai sebuah cita-cita besar yaitu : islam harus menjadi solusi atau rahmatan lil alamin, kami pikir itu lebih mendesak dan dibutuhkan saat ini tanpa meninggalkan variable sunnah nabi , beda itu biasa asal tidak membeda-bedakan, tapi saya bersyukur al-hamduulillah dengan kalimat yang terlontar barusan tadi adalah jawaban atas kapasitas keilmuanya, dan karakter dalam menghadapi sebuah perbedaan, dan itu berlaku setiap menghadapi perbedaan.

Sekali lagi ternyata kita hanya berkutat pada sisi yang sebetulnya itu hanyalah sebuah furu’ dan tidak ada kaitannya dengan aqidah, tapi kalo kita mau berdialog dengan kelompok yang mengaku salaf dimana corak mereka adalah berjenggot panjang dan celana isbal (diatas mata kaki) mereka pernah berujar aqidah harus dituntun dan disertai dengan sunnah yang benar, kalo buat sendiri sesudah sempurna agama ini maka amalnya akan ditolak, sepintas kalimat itu membuat dada saya membuncah, saya seperti posisi ditengah memang terkesan ambigu, tapi justru ditengahlah adalah sebuah keniscayaan yang harus saya jalani dan usahakan di dunia sepeninggal Rasulullah SAW, antara tuntunan dan tuntutan.
namun kita seringkali melupakan akhlaq yang sebenarnya ceriminan agama seseorang aw kama qola rosulullah SAW……..ah ironi …… (ifan)